PORTAL WIRAKARTA FINANCE Kembali ke Beranda
ekonomi

Rupiah Tertekan hingga Hampir Rp18.000 per Dolar, Bank Indonesia Buka Suara

Oleh Administrator 04 June 2026
Rupiah Tertekan hingga Hampir Rp18.000 per Dolar, Bank Indonesia Buka Suara

Rupiah Tertekan hingga Hampir Rp18.000 per Dolar, Bank Indonesia Buka Suara (Foto: sumselupdate.com)

Rupiah Tertekan hingga Hampir Rp18.000 per Dolar, Bank Indonesia Buka Suara

Jakarta, Sumselupdate.com – Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (3/6/2026) siang, dolar AS menguat 0,68 persen dan berada di level Rp17.960. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.839 per dolar AS.Read MoreHarga Emas di Palembang Turun Saat Dolar AS Tembus Rp18 Ribu, Ini Daftar Harga TerbarunyaRupiah Anjlok ke Rp17.887 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di AsiaInvestor Asing Kabur Rp53 Triliun dari Bursa, IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.127 Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan BI terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” ujar Denny dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).Menurutnya, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.Sebagai salah satu langkah stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI telah memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (3/6/2026) siang, dolar AS menguat 0,68 persen dan berada di level Rp17.960. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.839 per dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan BI terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” ujar Denny dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).Menurutnya, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.Sebagai salah satu langkah stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI telah memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” ujar Denny dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).Menurutnya, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.Sebagai salah satu langkah stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI telah memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Menurutnya, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.Sebagai salah satu langkah stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI telah memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Sebagai salah satu langkah stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI telah memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Denny menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, serta pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat berdampak pada biaya impor, inflasi, dan aktivitas bisnis yang bergantung pada mata uang asing. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

(**) Bantu Kami untuk BerkembangMari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!

PTBA Ubah Eks PETI Jadi Sentra Itik Petelur, Rimba Farm Produksi 200 Telur Omega per Hari

Dolar Kian Perkasa, Rupiah Diproyeksi Melemah hingga Rp19.000

Honkai Star Rail Account: Mengapa Koleksi Karakter dan Progress Akun Menjadi Kunci Pengalaman Bermain

PT Pusri Palembang Serahkan Bantuan Hewan Kurban untuk Warga Sekitar Perusahaan

PT Bukit Asam Raih Penghargaan Diamond PROSPER A IRCA 2026, Bukti Komitmen Kepatuhan dan Tata Kelola Perusahaan

Adira Expo Tebar Promo Hadir di Prabumulih, Tawarkan Solusi Finansial Terintegrasi untuk Beragam Kebutuhan

Pelayanan di RSUP Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang kembali disorot. Pasien BPJS Kesehatan mengeluhkan adanya ‘dua wajah’ layanan, di mana kenyamanan hanya bisa dirasakan jika bersedia merogoh kocek tambahan ratusan ribu rupiah.

Informasi Sumber & Rilis Berita

Media Asal: sumselupdate.com

Atribusi: sumselupdate.com

TAGS: #ekonomi