GARUDA KABAR Mengawal Ekonomi, Menginspirasi Negeri
Indeks Komoditas
Beras Premium (kg): Rp 14.500 +0.5%
Cabai Merah (kg): Rp 42.000 -2.1%
Daging Sapi (kg): Rp 130.000 0.0%
Minyak Goreng (L): Rp 18.000 +1.2%
Bawang Merah (kg): Rp 35.000 -1.5%
inovasi daerah

REKAN, Siswa SD Negeri 2 Muara Pinang Ciptakan Motif Batik Jumputan

Oleh Administrator 15 August 2026
REKAN, Siswa SD Negeri 2 Muara Pinang Ciptakan Motif Batik Jumputan

REKAN, Siswa SD Negeri 2 Muara Pinang Ciptakan Motif Batik Jumputan (Foto: Siswa SD Negeri 2 Muara Pinang memperlihatkan kain batik jumputan hasil kegiatan pembelajaran. REKAN dirancang untuk mempertemukan kreativitas siswa dengan pengenalan warisan budaya melalui praktik langsung. Foto: Dokumentasi SD Negeri 2 Muara Pinang)

REKAN menempatkan siswa sebagai pencipta karya, bukan sekadar penerima materi. Setiap ikatan menghadirkan kemungkinan pola yang berbeda. Proses pewarnaan melatih ketelitian, keberanian bereksperimen, dan kesabaran. Kain yang selesai menjadi bukti nyata bahwa belajar budaya dapat berlangsung menyenangkan.

EMPAT LAWANG — SD Negeri 2 Muara Pinang menghadirkan REKAN (Kreatif Batik Jumputan) sebagai inovasi pembelajaran seni budaya yang mengajak siswa belajar melalui praktik langsung. Kegiatan ini menggunakan teknik ikat dan celup untuk menghasilkan motif kain yang beragam serta tidak selalu sama antara satu karya dan karya lainnya. Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya mengenal batik sebagai warisan budaya, tetapi juga terlibat dalam menciptakan karya dengan tangan mereka sendiri. Pendekatan praktik dipilih agar pembelajaran terasa lebih hidup, menyenangkan, dan dekat dengan pengalaman peserta didik.

Gagasan REKAN berangkat dari kebutuhan guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif di tengah perubahan tren fesyen dan perkembangan ilmu pengetahuan. Batik jumputan dinilai relevan karena tekniknya sederhana, bahan yang digunakan relatif mudah disiapkan, dan hasilnya dapat langsung dilihat oleh siswa. Proses pembuatan dimulai dengan mengikat bagian tertentu pada kain menggunakan benang atau karet sebelum kain dicelupkan ke dalam pewarna. Bagian yang terikat menahan warna sehingga membentuk pola khas ketika ikatan dilepas.

Keunikan batik jumputan terletak pada hasil motif yang sulit dibuat sama persis, meskipun siswa menggunakan teknik yang serupa. Kondisi itu memberi ruang luas bagi anak untuk mencoba kombinasi ikatan, lipatan, dan warna sesuai imajinasi mereka. Proposal inovasi juga menempatkan warna cerah, pola geometris, serta bentuk organik sebagai bagian dari pengembangan desain yang lebih modern. Dengan demikian, nilai tradisional tetap dipertahankan, sementara tampilannya dapat disesuaikan dengan selera generasi muda.

Dari Kain Putih Menjadi Karya

Dalam pelaksanaannya, guru terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran dan mengumpulkan materi mengenai batik jumputan. Setelah itu, media pembelajaran disiapkan untuk membantu siswa memahami tahapan kerja sebelum praktik dimulai. Siswa kemudian melakukan proses melipat atau mengikat kain, mencelupkannya ke dalam pewarna, lalu membuka ikatan untuk melihat motif yang terbentuk. Kegiatan diakhiri dengan evaluasi terhadap proses, hasil karya, dan pengalaman belajar siswa.

Pengembangan desain dalam REKAN tidak berhenti pada pola ikatan konvensional dengan bantuan kelereng atau batu. Materi inovasi memperkenalkan kemungkinan penggunaan teknik lipat-ikat, jahit jelujur atau tritik, serta adaptasi shibori untuk menghasilkan pola yang lebih variatif. Ragam motif yang dapat dieksplorasi antara lain bunga, segi empat, daun, bintang, kupu-kupu, dan bentuk geometris lainnya. Pilihan tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan bentuk yang mereka lihat sehari-hari dengan karya tekstil yang dibuat di kelas.

Aspek warna juga menjadi bagian penting karena siswa dapat belajar menyusun kombinasi yang selaras atau berani. Perpaduan merah, hijau, kuning, maupun gradasi pelangi membuat kain jumputan tampil dinamis dan sesuai dengan perkembangan fesyen. Hasil karya tidak hanya dapat dipahami sebagai kain latihan, tetapi berpotensi dikembangkan menjadi pakaian, tas, atau produk kerajinan lainnya. Pengembangan tersebut memperkenalkan kepada siswa bahwa kreativitas seni dapat memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomis.

Melatih Kreativitas dan Kerja Sama

Manfaat utama inovasi ini diarahkan pada tumbuhnya kreativitas, imajinasi, dan keterampilan motorik halus siswa. Proses mengikat kain menuntut koordinasi tangan yang baik, sedangkan pencelupan warna mengajarkan ketelitian dalam mengikuti tahapan kerja. Ketika kegiatan dilakukan secara berkelompok, siswa juga belajar berbagi tugas, berdiskusi, dan menghargai gagasan teman. Pengalaman menyelesaikan karya memberi ruang bagi tumbuhnya rasa percaya diri karena setiap anak dapat menunjukkan hasil yang memiliki ciri khas sendiri.

REKAN sekaligus menjadi cara sekolah mengenalkan pelestarian budaya melalui pengalaman yang konkret. Siswa tidak hanya mendengar penjelasan tentang batik, tetapi memahami bahwa sebuah kain membutuhkan perencanaan, kesabaran, dan ketekunan untuk menghasilkan motif. Pembelajaran seperti ini dinilai dapat meningkatkan motivasi karena anak melihat hubungan langsung antara materi pelajaran dan benda yang mereka buat. Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu membutuhkan perangkat yang rumit atau biaya yang besar.

Dapat Dikembangkan Berkelanjutan

Keberlanjutan REKAN dapat diperkuat melalui evaluasi rutin terhadap kesiapan bahan, kejelasan instruksi, keselamatan penggunaan pewarna, dan kualitas pendampingan siswa. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk menyempurnakan media pembelajaran serta menambah variasi motif pada kegiatan berikutnya. Sekolah juga dapat mendokumentasikan karya siswa sebagai bahan pameran, portofolio pembelajaran, atau inspirasi bagi kelas lain. Dengan langkah tersebut, inovasi dapat berkembang menjadi praktik baik yang mudah diterapkan sesuai kondisi sekolah.

Melalui REKAN, SD Negeri 2 Muara Pinang memperlihatkan bahwa seni budaya dapat diajarkan melalui kegiatan yang aktif dan menghasilkan karya nyata. Batik jumputan menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional, ekspresi pribadi, dan keterampilan yang berguna bagi siswa. Setiap motif yang terbentuk menunjukkan bahwa perbedaan ide dapat menghasilkan keindahan yang beragam. Inovasi ini pada akhirnya mendorong sekolah membangun suasana belajar yang kreatif sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.

Sumber bahan berita: REKAN (Kreatif Batik Jumputan), SD Negeri 2 Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang, Tahun 2025.

TAGS: #inovasi daerah