MANTAP Ubah Lahan Terbatas SDN 5 Pasemah Air Keruh Menjadi Kebun Edukatif
MANTAP Ubah Lahan Terbatas SDN 5 Pasemah Air Keruh Menjadi Kebun Edukatif (Foto: Siswa mengamati dan merawat tanaman yang dibudidayakan dalam pot di area terbatas sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan yang menghubungkan materi kelas dengan praktik bercocok tanam. Foto: Dokumentasi inovasi MANTAP)
MANTAP menjadikan ruang sempit sebagai tempat belajar yang produktif dan menyenangkan. Siswa tidak hanya mengenal tanaman melalui buku, tetapi terlibat langsung dalam proses budidaya. Kegiatan merawat pot melatih tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan. Inovasi sederhana ini dapat diterapkan di sekolah maupun pekarangan rumah dengan lahan terbatas.
EMPAT LAWANG — SDN 5 Pasemah Air Keruh mengembangkan inovasi MANTAP atau Tanaman Budidaya Lahan Terbatas Dalam Pot sebagai solusi penghijauan di tengah keterbatasan lahan sekolah. Program yang dalam proposal juga disebut Tabulatas Pot ini memanfaatkan koridor, teras, area semen, dan sudut kecil sebagai ruang budidaya yang produktif. Siswa dilibatkan dalam kegiatan menyiapkan media tanam, menanam bibit, merawat tanaman, hingga mengamati pertumbuhannya. Pendekatan tersebut menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang hijau, praktis, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Keterbatasan tanah terbuka selama ini menjadi tantangan dalam pengembangan kebun sekolah secara konvensional. Padahal, Pasemah Air Keruh memiliki potensi agraris yang penting dikenalkan kepada siswa sejak dini. Melalui budidaya dalam pot, anak-anak belajar bahwa sayuran, tanaman obat, buah, dan tanaman hias tetap dapat ditanam di ruang yang sempit. Pemahaman itu sekaligus menumbuhkan keterampilan hidup yang dapat diterapkan di lingkungan rumah masing-masing.
MANTAP dirancang sebagai inovasi non-digital dengan bentuk pembelajaran berbasis lingkungan atau eco-learning. Pot dapat ditempatkan secara bertingkat, digantung, maupun disusun pada rak agar ruang sekolah digunakan secara efisien. Bahan bekas juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam untuk mendukung prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah. Dengan desain yang fleksibel, kegiatan budidaya dapat menyesuaikan kondisi lahan serta kebutuhan ruang di sekolah.
Sekolah Menjadi Laboratorium Alam
Dalam pelaksanaannya, siswa memperoleh pembekalan mengenai cara memilih tanaman dan menyiapkan media tanam. Campuran tanah, kompos, dan sekam bakar digunakan untuk membantu menyediakan unsur hara sekaligus menjaga drainase pot. Siswa kemudian menanam benih atau bibit pada kedalaman yang sesuai dan menempatkannya di area yang memperoleh cahaya matahari. Proses tersebut memberi pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman materi IPAS, pengukuran dalam Matematika, dan kreativitas dalam Seni Budaya.
Perawatan tanaman dilakukan melalui penyiraman terkontrol, pemberian nutrisi organik, serta pengendalian hama secara manual atau menggunakan bahan nabati. Tanggung jawab dapat dibagi melalui konsep satu siswa satu pot atau satu kelas satu rak tanaman. Jadwal piket membantu memastikan tanaman tetap dirawat secara rutin di bawah pendampingan guru. Kebiasaan tersebut melatih kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian siswa terhadap lingkungan.
Perkembangan tanaman dipantau dengan mencatat tinggi tanaman dan jumlah daun secara berkala. Hasil pengamatan dapat disusun menjadi laporan praktik sebagai bagian dari kegiatan literasi dan sains. Sekolah juga dapat mengadakan kegiatan seperti pot terindah atau tanaman tersubur untuk menjaga antusiasme peserta didik. Ketika tanaman siap dipanen, hasilnya dapat dimanfaatkan warga sekolah, dibagikan kepada siswa, atau digunakan untuk mengenalkan kegiatan kewirausahaan sederhana.
Mendukung Sekolah Hijau dan Sehat
Keberadaan tanaman dalam pot diharapkan membentuk koridor hijau yang lebih asri, sejuk, dan nyaman. Tanaman membantu memperbaiki kualitas visual lingkungan sekaligus berkontribusi terhadap udara yang lebih bersih di sekitar ruang belajar. Program ini juga menjadi langkah pendukung bagi sekolah dalam memenuhi unsur penghijauan pada Program Adiwiyata. Keterlibatan seluruh warga sekolah menjadi faktor penting agar penataan dan perawatan tanaman dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Proposal MANTAP menargetkan terbentuknya 50 hingga 100 pot yang tertata di area terbatas SDN 5 Pasemah Air Keruh. Target tersebut tidak hanya berorientasi pada jumlah tanaman, tetapi juga pada perubahan perilaku siswa dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Sekolah berharap kegiatan ini mampu mengurangi kebiasaan merusak tanaman dan menumbuhkan rasa bangga terhadap hasil budidaya sendiri. Lingkungan yang lebih hijau juga diharapkan mendukung kenyamanan dan konsentrasi siswa selama mengikuti pembelajaran.
Dapat Direplikasi di Lahan Sempit
Tahapan inovasi dimulai melalui sosialisasi, koordinasi bersama kepala sekolah, guru, dan komite, serta pengadaan bibit dan sarana tanam. Lokasi penempatan pot ditentukan dengan mempertimbangkan luas area dan intensitas cahaya matahari. Setelah penanaman, kegiatan dilanjutkan dengan perawatan, monitoring pertumbuhan, evaluasi, serta panen ketika tanaman telah siap. Dokumentasi setiap tahap disusun sebagai bahan pembelajaran dan bukti keberhasilan optimalisasi lahan sekolah.
MANTAP menunjukkan bahwa keterbatasan lahan tidak harus menghentikan kegiatan penghijauan dan pendidikan pertanian. Pemanfaatan pot memberi peluang bagi sekolah untuk mengubah ruang yang sebelumnya kurang produktif menjadi area belajar yang bernilai ekologis dan edukatif. Model ini relatif mudah diterapkan kembali oleh sekolah, keluarga, maupun masyarakat yang memiliki pekarangan sempit. Melalui praktik sederhana tersebut, siswa dibekali pengetahuan, keterampilan, dan karakter peduli lingkungan sejak usia sekolah dasar.
Sumber bahan berita: MANTAP/Tabulatas Pot (Tanaman Budidaya Lahan Terbatas Dalam Pot), SDN 5 Pasemah Air Keruh, Kabupaten Empat Lawang, Tahun 2025.