GARUDA KABAR Mengawal Ekonomi, Menginspirasi Negeri
Indeks Komoditas
Beras Premium (kg): Rp 14.500 +0.5%
Cabai Merah (kg): Rp 42.000 -2.1%
Daging Sapi (kg): Rp 130.000 0.0%
Minyak Goreng (L): Rp 18.000 +1.2%
Bawang Merah (kg): Rp 35.000 -1.5%
inovasi daerah

BUMAN MENTAH Sulap Taman Sekolah Menjadi Apotik Hidup

Oleh Administrator 15 August 2026
BUMAN MENTAH Sulap Taman Sekolah Menjadi Apotik Hidup

BUMAN MENTAH Sulap Taman Sekolah Menjadi Apotik Hidup (Foto: Guru dan peserta didik mengikuti kegiatan pengelolaan tanaman di lingkungan sekolah. Melalui BUMAN MENTAH, taman sekolah dikembangkan menjadi apotik hidup yang digunakan untuk mengenalkan tanaman herbal, proses pertumbuhan, serta tanggung jawab merawat lingkungan. Foto: Dokumentasi Program BUMAN MENTAH)

Taman sekolah tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi dapat menjadi laboratorium alami yang mengajarkan sains, tanggung jawab, dan kepedulian.

EMPAT LAWANG — SD Negeri 11 Muara Pinang mengembangkan BUMAN MENTAH untuk menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih nyata dan menyenangkan. Lahan sekolah dimanfaatkan menjadi apotik hidup tempat siswa menanam, merawat, mengamati, serta mengenali manfaat berbagai tanaman herbal.

Pembelajaran IPA di sekolah dasar perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati fenomena secara langsung. Di SD Negeri 11 Muara Pinang, keterbatasan sarana praktik dan belum tersedianya laboratorium membuat pembelajaran masih banyak berlangsung secara teoritis. Kondisi tersebut berdampak pada pemahaman konsep sains yang belum optimal.

Sekitar 55 persen siswa telah mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran, sementara 45 persen masih mengalami kesulitan memahami IPA secara kontekstual. Sekitar 60 persen siswa belum mampu menyebutkan lebih dari tiga tanaman herbal beserta manfaatnya. Sebanyak 65 persen juga mengaku belum pernah terlibat langsung dalam kegiatan menanam di sekolah.

Taman Sekolah Menjadi Laboratorium Alami

BUMAN MENTAH merupakan singkatan dari Membuat Taman Sekolah Menjadi Apotik Hidup. Program ini memanfaatkan lahan kosong di sekitar sekolah untuk ditanami berbagai tanaman herbal. Taman tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga menjadi media pembelajaran IPA yang dapat diamati dan dirawat secara berkelanjutan.

Siswa dilibatkan sejak tahap menyiapkan lahan, pot atau polybag, tanah, pupuk, dan bibit. Guru mengenalkan jenis tanaman, manfaatnya bagi kesehatan, serta teknik penanaman yang benar. Kegiatan dilakukan dalam kelompok agar peserta didik belajar bekerja sama dan bertanggung jawab. Pengalaman tersebut membuat konsep sains lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Setelah penanaman, setiap kelompok memperoleh jadwal perawatan secara bergiliran. Siswa menyiram tanaman, membersihkan gulma, menjaga kebersihan area, dan memantau kondisi tanaman. Mereka juga mencatat perubahan tinggi, jumlah daun, dan pertumbuhan tanaman secara sederhana. Catatan tersebut menjadi bahan diskusi dalam pembelajaran IPA.

Program ini menjawab minat siswa terhadap pembelajaran berbasis praktik di luar kelas. Berdasarkan dokumen inovasi, sekitar 75 persen siswa menyatakan lebih tertarik dan lebih mudah memahami materi melalui kegiatan langsung. Apotik hidup memberi ruang bagi anak untuk belajar dengan melihat, menyentuh, merawat, dan menghubungkan teori dengan objek nyata.

Literasi Sains Bertemu Pendidikan Karakter

Kebaruan BUMAN MENTAH terletak pada integrasi penanaman herbal dengan pembelajaran IPA yang terstruktur. Kegiatan penghijauan yang sebelumnya bersifat insidental diubah menjadi program belajar yang memiliki tujuan, jadwal perawatan, pengamatan, dan evaluasi. Dengan demikian, taman sekolah berfungsi sebagai sumber belajar yang hidup.

Literasi sains dikembangkan melalui kemampuan mengamati, mengukur, mencatat, dan menarik kesimpulan dari pertumbuhan tanaman. Pada saat yang sama, siswa dilatih untuk disiplin, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab terhadap tanaman yang dirawat. Program ini mempertemukan kompetensi kognitif dengan pembentukan karakter peduli lingkungan.

Teknologi informasi digunakan sebagai pendukung, bukan pengganti praktik lapangan. Guru memanfaatkan telepon pintar, laptop, dan proyektor untuk menampilkan gambar atau video tentang tanaman herbal dan manfaatnya. Foto serta video kegiatan disimpan sebagai dokumentasi, bahan evaluasi, dan materi publikasi sekolah.

Dikembangkan Bertahap Selama Sembilan Minggu

Proses inovasi dimulai dengan observasi pembelajaran IPA dan sikap kepedulian lingkungan siswa. Guru kemudian mengumpulkan data melalui evaluasi pembelajaran, angket sederhana, dan wawancara. Hasil analisis digunakan untuk merumuskan Program Apotik Hidup sebagai solusi pembelajaran kontekstual yang tidak bergantung pada laboratorium khusus.

Tahap berikutnya mencakup penyusunan rencana, penentuan lokasi, pemilihan tanaman herbal, dan penyiapan sarana. Siswa memperoleh sosialisasi mengenai tujuan program, manfaat tanaman, serta cara penanaman dan perawatan. Pelaksanaan dilanjutkan dengan penanaman, pemeliharaan, pengamatan pertumbuhan, dan pemanfaatan taman sebagai media belajar.

Evaluasi dilakukan melalui diskusi, tanya jawab, tugas sederhana, dan pengamatan keterlibatan siswa. Program diharapkan meningkatkan pemahaman IPA sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang hijau, sehat, dan edukatif. BUMAN MENTAH juga dapat dikembangkan dengan melibatkan orang tua dan masyarakat agar manfaatnya lebih luas serta berkelanjutan.

Sumber: BUMAN MENTAH (Membuat Taman Sekolah Menjadi Apotik Hidup) Tahun 2025, SD Negeri 11 Muara Pinang, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang.

TAGS: #inovasi daerah